Todayon2009's Blog

Just another WordPress.com weblog

Teori Belajar Klasik (part 1)

Pendekatan behaviorisme yang menekankan pada perilaku yang tampak namun hanya sedikit menaruh perhatian pada proses mental dikategorikan sebagai teori belajar klasik. Diantaranya meliputi teori koneksionisme dari Thorndike, teori kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning operan dari Skinner. Teori belajar klasik menekankan belajar sebagai proses yang melibatkan hubungan asosiatif antara proses sensorik dan proses motorik. Hal ini dikarenakan teori ini lahir dari pendekatan eksperimental dalam seting laboratorium.

Dalam penelitiannya, Thorndike melakukan eksperimen untuk mengetahui apakah proses belajar didasari atas berpikir atau terdapat suatu proses yang bersifat lebih mendasar. Penelitiannya dilakukan pada ayam, anjing, ikan, kucing dan kera. Lewat mekanisme trial and error, respon yang benar tertanam atau diperkuat dengan percobaan yang berulang. Sebaliknya, respon yang salah menjadi lemah atau tidak menghasilkan perubahan perilaku. Hal ini menunjukkan adanya substitusi respon yang terjadi karena belajar. Teori koneksionisme dapat disebut pula sebagai teori kondisioning instrumental (karena pemilihan respon merupakan alat atau instrumen bagi ganjaran).

Teori koneksionisme menghasilkan hukum belajar turunan yang meliputi law of effect, law of exercise dan law of readiness;

  • law of effect

Keadaan yang memuaskan menyusul respon memperkuat pauntan stimulus dan tingkah laku. Hal sebaliknya berlaku pada keadaan yang menjengkelkan.

  • law of exercise

Pengalaman yang diulang akan memperbesar peluang timbulnya respon yang benar. Practice makes perfect. Demikian pula sebaliknya.

  • law of readiness

Pelaksanaan tindakan sebagai respon terhadap impuls yang kuat akan menghasilkan situasi yang menyenangkan. Demikian pula sebaliknya.

Teori B. F. Skinner dikenal dengan kondisioning operan. Organisme melakukan respon yang beroperasi (melakukan reaksi) pada lingkungan dengan tujuan untuk mengubahnya (sesuai dengan stimulus yang tersedia). Selama proses “operasi ini” organisme menghadapi stimulus tertentu (disebut reinforcing stimulus atau reinforcer). Stimulus ini memberikan efek terhadap perilaku yang diiringi konsekuensi. Konsekuensi inilah yang memodifikasi kecenderungan organisme untuk mengulangi perilaku yang terbentuk di masa yang akan datang. Dengan demikian, terbentuklah perilaku yang baru1.

Berikutnya adalah teori kondisioning klasik dari Pavlov. Teori belajar ini didasari atas pembentukan reflek akibat pengondisian lingkungan. Stimulus yang tidak terkondisi dan respon yang tidak terkondisi (keduanya merupakan suatu hubungan reflek) diasosiasikan dengan stimulus netral yang dihadirkan bersama stimulus tidak terkondisi. Melalui serangkaian pengulangan, stimulus yang semula netral akan menghasilkan respon. Pada poin ini, stimulus yang netral menjadi stimulus terkondisi, dan respon ini disebut sebagai respon terkondisi.

1 A behavior followed by a reinforcing stimulus results in an increased probability of that behavior occurring in the future. A behavior no longer followed by the reinforcing stimulus results in a decreased probability of that behavior occurring in the future.

December 28, 2009 - Posted by | Psikologi Belajar

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: