Todayon2009's Blog

Just another WordPress.com weblog

Psikologi Kepribadian; (hanya) pengantar

Studi tentang kepribadian menekankan pada variasi individu yang normal. Kepribadian didefinisikan sebagai pola-pola unik perilaku seseorang (termasuk pemikiran dan emosi) yang menandakan pola adaptasi dalam hidupnya. Kepribadian bersifat koheren dan kontinyu (bersifat menetap) yang dipercayai/diyakini oleh orang tersebut maupun oleh orang yang mengenalnya, walaupun orang kadang bersikap berbeda-beda dari satu situasi ke situasi yang lain. people do tend to display consistency in some areas, although these areas are not the same for everyone. Ketidakkonsistenan perilaku menunjukkan adaptasi mereka pada lingkungan (karena lingkungan terus berubah). Tiap orang beradaptasi, tetapi masih menunjukkan perilaku yang konsisten.
Sokrates, yang hidup pada abad 6 SM, telah dikenal dengan ucapannya gnoti shouton, yang artinya kenalilah dirimu sendiri. Islam, dalam pendekatan sufistik sangat mengenal ungkapan bahwa “dengan mengenali dirimu, kau akan mengenal Tuhanmu”. Keingintahuan manusia tentang dirinya, ditempuh dengan berbagai cara, mulai dari pendekatan spekulatif (filsafat, pseudoscience, mitologi) sampai penyelidikan yang bersifat agak ilmiah yang didapat dari pemikiran induktif dan penelitian eksperimental yang bersifat deduktif dan empiris. Pendekatan pra ilmiah dapat kita lihat pada daktiloskopi/chirologi (ilmu garis tangan), astrologi (mengelompokkan dan meramalkan kepribadian dan nasib orang melalui konstlelasi peredaran perbintangan), grafologi (ilmu peramalan tulisan tangan), physiognomi (meneliti tipe wajah berdasar bentuk wajah) dan phrenologi (pembagian tipe manusia berdasarkan ukuran dan dimensi tengkorak)


Pendekatan filsafat misalnya, seperti yang dikemukakan Plato (muridnya Sokrates); mengemukakan bahwa manusia terbagi atas tiga golongan. Golongan pertama, orang yang pusat kemampuan dirinya terletak di otak. Mereka ”terlahir” untuk menjadi pemikir dan pemimpin. Golongan kedua, orang yang memiliki kemampuan lebih pada sisi fisiknya, mereka pantas dan ditempatkan masyarakat menjadi prajurit atau pedagang. Terakhir, adalah sisa, mereka yang lebih pantas untuk menjadi budak dan rakyat saja.
Mirip dengan yang dikemukakan Plato, Sheldon & Sterns (lihat buku Sumadi Suryabrata), tokoh psikologi yang membagi manusia menjadi tipe-tipe; Endomorphy (viscerotonia) berfisik gemuk dan lembut; suka bergaul, santai), mesomorphy (somatotonia) memiliki ciri yang menonjol pada ototnya, memiliki sifat aktif dan penuh gerak, dan tipe ectomorphy (cerebrotonia fisiknya kurus kering, orangnya suka berpikir, menyendiri, mudah tersinggung dan pemalu. Teori ini secara empiris lebih unggul, namun ternyata tidak banyak didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan orang lain. Jika saja terdapat hubungan yang jelas, persoalan sebab akibat masih juga belum jelas.

Dimensi-dimensi Teori Kepribadian
Teori kepribadian yang lengkap membahas mengenai setidaknya 5 dimensi kepribadian (Menurut Pervin, dalam buku Linzey and Hall: Psikologi kepribadian, Kanisius); meliputi:
a.struktur
aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil dan mantap, merupakan unsur-unsur pembentuk sosos kepribadian.
b.Proses
Konsep-konsep tentang dinamika kepribadian
c.pertumbuhan dan perkembangan
perubahan dan perkembangan struktur kepribadian sejak bayi hingga dewasa (perubahan, proses yang menyertai, faktor penentu).
d.Psikopatologi
Hakikat gangguan, asal-usul dan proses perkembangan
e.perubahan tingkah laku
modifikasi perilaku dan model-model psikoterapi

Pendekatan dan Tradisi dalam Psikologi Kepribadian
Bila kita membicarakan kepribadian, akan ada dua sudut tinjauan, sisi normatif yang menunjukkan kualitas (baik dan buruk) dan sisi deskriptif, yaitu gambaran tentang perilaku, sifat dan sikap pada diri seseorang. Dari sisi metodologi, kepribadian dipelajari secara spekulatif (pendekatan prailmiah dan tinjauan filsafat) dan secara empiris-eksperimental (pendekatan inilah yang lebih dipakai oleh psikologi).
Pendekatan yang digunakan dalam meneliti atau mempelajari kepribadian terbagi atas dua pendekatan, pertama, pendekatan tipologis. Pendekatan ini menggunakan sejumlah kecil komponen dasar pada manusia yang digeneralisasikan menjadi keseluruhan kepribadian seseorang. Lihat teori yang dikemukakan Hipocrates, Kretschmer, Sheldon dan Sterns. Pendekatan kedua lebih menekankan pada struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian (mahzab psikodinamika, behavioristik, humanistik).

Tipologi dan Trait Theory
Pendekatan trait/tipologi tampaknya hanya berhenti pada penggolongan berbagai tipe kepribadian orang , walaupun memiliki implikasi praktis untuk menentukan jenis orang berdasarkan potensi atau ciri kepribadian yang telah ada.
Beberapa tokoh pencetus teori tipologi akan dijelaskan secara singkat, sebagaimana uraian di bawah ini (untuk lebih lengkapnya, baca buku Psikologi Kepribadian karangan Sumadi Suryabrata, 1982. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada)..
Kretschmer membagi tipe manusia berdasarkan empat tipe berdasarkan konstitusi tubuh. Tipe pertama adalah aesthetic (tinggi, kurus: cenderung suka menyendiri, ciri schizophrenia), atletik (berotot kuat dan berbahu tegap: cenderung schizophrenia), pycnic (pendek dan gemuk: suka bergaul, emosi cenderung instabil: ciri psikosis manic depresif), dysplastis (tidak umum, aneh, jelek: juga cenderung schizophrenia).
Subjek penelitian Kretschmer adalah pasien-pasiennya (dia seorang psikiater, pasiennya adalah orang-orang yang terganggu jiwanya). Teori ini cukup populer, ketika kedokteran menjadi dasar penelitian psikologi. Walaupun tidak ada hubungan bentuk tubuh dan kelainan jiwa namun hubungan ini ditemukan di rumah sakit jiwa. Penelitian pada orang normal ternyata menunjukkan tidak adanya bukti yang cukup kuat yang dapat mendukung pendapatnya. Salah satu sebabnya karena subjek penelitian Kretschmer tidak dikendalikan secara ketat dari sisi umur. Padahal, makin tua umur seseorang, seseorang akan semakin gemuk. Hubungan sebab dan akibat tidak diketahui dengan jelas.
Teori trait, untuk masa yang lebih lanjut, dikembangkan secara lebih empiris dengan mendasarkan pada penelitian statistik. Pendekatan ini secara lebih spesifik dikenal juga dengan teori-teori kepribadian faktor. Teori kepribadian faktor, misalnya dikembangkan oleh Allport dan Cattel. Pendekatan faktor ini memiliki fungsi lebih lanjut ke arah pembentukan beberapa alat tes psikologis yang mengukur kepribadian manusia.
Allport mengumpulkan 10.000 kosakata tentang sifat, menganalisis dan memilahnya dengan menggunakan “teori faktor”. Allport pada akhirnya menemukan tiga jenis sifat atau trait, yang meliputi: Cardinal, merupakan sebagian besar perilaku individu/trait yang dapat mewakili sepenuhnya. Tidak semua orang memiliki satu perilaku yang mencolok. Lebih rendah dari cardinal, adalah tipe Sentral, beberapa trait yang berpengaruh besar (saling berkorelasi, merupakan generalisasi respon) pada perilakunya yang berkembang karena berbagai situasi yang dialami. Terakhir adalah tipe Sekunder, merupakan trait yang kecil pengaruhnya, misalnya tentang selera yang sifatnya agak khusus.
Cattel mengembangkan teori kepribadian (mirip dengan Allport, tapi menggunakan teknik statistik analisis . Bila berkorelasi 0,6 atau lebih diasumsikan mengukur hal yang sama). Trait yang saling berkorelasi dikelompokkan dalam suatu rumpun, disebut trait permukaan (surface trait : ramah, suka menolong, senang bergaul). Kurang lebih ada 20 surface trait, yang merupakan manifestasi kepribadian yang jelas/tampak. Sumbernya terbentuk oleh lingkungan dan trait konstitusional (genetik) yang lebih mendasari dan merupakan label trait permukaan yaitu trait sumber/source trait.

Struktur, Dinamika dan Perkembangan Kepribadian
Teori-teori kepribadian lebih jauh dan lebih mendalam terdapat pada berbagai mahzab/aliran yang ada dalam psikologi. Perlu diingat, mahzab atau pendekatan ini bukan hanya untuk menerangkan kepribadian saja. Tiga aliran besar psikologi, yaitu pendekatan/aliran/mahzab psikoanalis, behavioristik dan humanistik. Ketiga pendekatan ini berbeda dalam konsep dasar, cara pandang, sejarah perkembangan dan falsafah yang digunakan dalam memandang manusia beserta struktur, dinamika dan perkembangannya.
PSIKOANALISIS
Psikoanalisis menjadi sebuah pendekatan yang penting dalam psikologi dikarenakan untuk pertama kalinya aspek ketidaksadaran manusia diangkat sebagai metode untuk meneliti kepribadian manusia Tidak terdapat bukti ilmiah untuk dapat mendukung ataupun menolak teori Freud yang bersifat subjektif ini. (pada masa tersebut teori-teori psikologi bersifat eksak, dengan menggunakan pendekatan fisika dan matematis untuk menerangkan gejala-gejala kepribadian manusia). Disamping itu, teori Freudlah yang paling komprehensif dalam menerangkan tentang kepribadian dan psikoterapi. Teorinya bersifat induktif, terbuka, informal dan berakar dari bukti-bukti empiris. Teori Freud bahkan menjangkau lebih jauh lagi, hingga memberikan pengaruh pada dunia sastra, ilmu sosial bahkan pemikiran-pemikiran kontemporer tentang manusia, postmodernisme, misalnya.
Freud tidak belajar dari kasus Leonardo Da Vinci dan tidak menemukan kompleks Oediphus dari membaca Sopokles, Shakespeare atau Dostoyevski. Psikoanalisis justru mungkin membantu meneguhkan konsep, mensahihkan otentisitas dan universalitasnya dengan masuk dalam pembahasan mengenai agama atau politik.
Psikoanalisis memandang ada suatu sistem energi, yang meliputi kesadaran dan ketidaksadaran yang mengarahkan motif, insting dan perilaku manusia. Terdapat tiga komponen psikis yang meliputi id, ego dan superego yang saling berinteraksi dalam menentukan sikap dan kepribadian seseorang. Terbentuknya ketiga komponen psikis tersebut sangat ditentukan pada lima tahun pertama kehidupan seseorang. Peran orang tua sangat dominan bagi anak (terbentuknya identifikasi, perkembangan kejiwaan perkembangan psikoseksual; ingat teori Oedipus). Different motives and body zones predominate in the child at different stages of growth, with effects persisting in adult personality traits.
Pendekatan psikoanalis melahirkan pendekatan neopsikoanalis, sebagai bentuk protes dari murid Freud yang merasa tidak puas dengan pandangan Freud yang deterministik dan terlalu menekankan pada aspek seksualitas manusia sebagai pendorong utama motivasi manusia. Terdapat beberapa tokoh seperti Carl Gustav Jung, Alfred Adler, Erich Fromm, Erik Erikson. Pada akhirnya “mereka-mereka itu” mengembangkan teori khas milik mereka yang meliputi perkembangan kejiwaan, dinamika kepribadian hingga pada metode psikoterapi yang cenderung mengarah ke teori humianistik (dikarenakan protes mereka pada Freud serta penemuan dan pencarian mereka terhadap hakikat hidup yang dilatar belakangi pula oleh latar belakang pribadi mereka).
CARL GUSTAV JUNG
Jung lebih menekankan pada tujuan dan rencana hidup manusia – dalam memandang motif manusia, bukan pada insting (seperti yang ditekankan oleh Freud). Ketidaksadaran merupakan dasar kepribadian (tidak hanya bersifat individual sebagaimana Freud lagi) yang berasal dari bayangan-bayangan primordial yang disebut arketip; konsep yang menunjukkan adanya pengalaman primitif dari masa lalu dalam sepanjang sejarah umat manusia, misalnya Tuhan, reinkarnasi, the wise old man, setan. Hal ini bersumber dari mite dan ingatan-ingatan terhadap realitas, misalnya konsep yin dan yang.
Setiap orang juga memiliki bagian dari kepribadian yang berkembang dari pengalaman pribadinya yang pada awalnya disadari tetapi ditekan dalam ketidaksadaran. Orang yang sehat akan semakin mengembangkan kesadarannya, mengintegrasikan ketidaksadaran “shadows” side dengan sisi kesadaran. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi semua bagian dari sisi kepribadian menjadi lebih berkembang secara sepenuhnya.
ERIK ERIKSON
Erikson mengembangkan tahapan perkembangan kepribadian seseorang dengan mendasarkan diri pada teori psikoseksual Freud. Teori Erikson lebih melibatkan peran lingkungan atau sosial (dalam hal ini orang tua dan orang yang signifikan) dalam tahapan perkembangan pribadi. Erikson mengemukakan teori tentang 8 tahap perkembangan, terkenal dengan teori psikososial. Tiap-tiap tahap memiliki ciri khas (sifat dasar) yang perkembangan dan hasilnya ditentukan oleh bagaimana peran “agen pemenuhan” dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Kegagalan atau keberhasilan pada tahap tertentu akan menentukan sifat dan kepribadian pada seseorang.
BEHAVIORISTIK
Aliran behavioristik memiliki pandangan dasar bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh aspek belajar. Behavioristik menekankan sejarah pembelajaran yang berfokus pada cara-cara tertentu dimana pola-pola perilaku dibentuk dan dipertahankan keajekannya berdasarkan kepuasan atau imbalan yang didapatkan.
Ada dua pendekatan klasik dalam psikologi behavioristik. Pertama pendekatan kondisioning klasikal. Terbentuknya sebuah perilaku diawali ketika sebuah stimulus yang netral diasosiasian atau disertai dengan stimulus yang terkondisikan. Kedua,pendekatan operan kondisioning. Kepribadian atau perilaku terbentuk dari reinforcement, yaitu berupa ganjaran dan hukuman. Semakin perilaku itu mendapat ganjaran, maka perilaku itu semakin sering diulang dan akhirnya menetap.
Pendekatan behavioristik klasik dianggap terlalu mekanistis dan mereduksi kemampuan manusia. Hal ini melahirkan pendekatan baru yang lebih menekankan pada proses aktif manusia dalam mengorganisis berbagai pengalaman dan interaksi di lingkungannya. Pendekatan ini disebut pendekatan belajar sosial. Memadukan pendekatan sosiologis dan psikologis, pendekatan ini menekankan pada proses imitasi dan identifikasi subjek dengan apa yang dia lihat dan pelajari (meniru, memodifikasi, discarding, dan mengjkombinasikan berbagai pengalaman orang lain). Dengan demikian seorang individu belajar dari perilaku-perilaku yang telah ada, secara kompleks dan berulang, yang pada akhirnya menjadi bagaian dari diri dan kepribadiannya. Kepribadian merupakan produk dari sejarah unik hidupnya.
HUMANISTIK
Aliran humanistik dilatar belakangi oleh pandangan filsafat yang berawal dari romantisisme dan fenomenologi eksistensial yang lahir dari kekecewaan orang-orang atas arus modernisasi yang tidak lagi memandang manusia sebagaimana adanya. Pandangan ini menguat didasarkan atas kepedihan yang melanda dunia, pasca perang dunia pertama dan yang kedua.
Pandangan ini menekankan pada optimisme dalam memandang manusia. Manusia dipandang memiliki kemampuan yang tak terbatas sejauh seseorang dapat mengusahakannya. Manusia memiliki free will, lingkungan adalah alam yang dapat dipersepsikan secara subjektif bagi setiap orang .
Pendekatan psikologi yang memandang individu dari sudut penemuan diri dan realisasi diri. Memusatkan perhatiannya pada sumber yang terdapat dalam diri manusia. Masalah utama yaitu menemukan diri dan menjadi diri sendiri dan mengaktualisasikan diri. Bila identitas diri telah ditemukan, individu akan cenderung untuk bertingkah laku dan berpikir dengan lebih efektif dan kreatif, perilaku akan muncul dari “keberadaannya sendiri” dalam dunia bukan ditentukan orang lain ataupun tuntutan dari lingkungan.
Individu dapat menemukan eksistensi dirinya dengan jalan mengambil dari keunikan pengalamannya sendiri, menyadari potensi yang dimilikinya dan mempertahankan kebebasan untuk memutuskan sendiri pola kehidupan yang ingin dianutnya. Bila kita hendak memahami realita diri sendiri, maka pertama-tama yang harus dilakukan aialah membuang segala praduga, konsep, teori dan melihat diri kita sendiri sebagai mana adanya. Kebingungan karena manusia telah terpisahkan dari diri sendiri.
CARL ROGERS
Rogers menekankan pentingnya the total organism, menekankan pentingnya keseluruhan pengalaman seorang manusia. Pandangan ini lebih bersifat phenomenal field; the individual’s frame of reference & may or may not correspond with external reality. We code or symbolize our experience, then we check our symbolized form against new experience about the world. We’re able to act on dependable information & to behave realistically. (bandingkan dengan pendekatan teori medan dari Kurt Lewin)
ABRAHAM MASLOWS
Maslow adalah orang yang bersemangat dalam mencari dan menemukan potensi manusia. Menurut Maslow, orang yang sehat cenderung akan selalu mengoptimalkan potensinya atau mengaktualisasikan potensi yang ada pada dirinya. (ingat hirarki kebutuhan Maslow).

Penutup
Perbedaan beberapa aliran dalam psikologi didasarkan atas falsafah yang berbeda dalam memandang manusia. Masing-masing pendekatan tersebut memiliki tokoh-tokoh dan pengikut-pengikutnya hingga saat ini. Tiap pendekatan, memiliki pandangan yang global mulai dari dasar falsafah, teori-teori perkembangan, dinamika dan pembentukan kepribadian hingga pada teknik konseling dalam menangani individu yang kurang adaptif (menurut teori behavioristik), individu yang perlu “membebaskan dirinya” (menurut pandangan humanistik) atau individu yang “terpecah” (kata psikoanalis).
Masing-masing pendekatan tak perlu saling dipertentangkan, bahkan beberapa tokoh menggabungkan beberapa pendekatan untuk saling melengkapi teori atau untuk mendapatkan teknik konseling yang lebih efektif dalam menyelelesaikan persoalan manusia; masalah dengan dirinya, dengan masyarakat, lingkungan atau hubungan manusia dengan Tuhannya.

December 28, 2009 - Posted by | Psikologi Kepribadian

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: