Todayon2009's Blog

Just another WordPress.com weblog

BEHAVIORISME

Behaviorisme merupakan mahzab psikologi yang menekankan pada aspek kesadaran individu dalam merespon lingkungan. Dalam hal ini, lingkungan merupakan faktor penentu pembentukan kepribadian. Lingkungan mengondisikan individu, individu melakukan penyesuaian diri sebagai upaya untuk beradaptasi, memeroleh pengalaman dan membentuk kepribadian khas – sekhas – keunikan yang dimiliki tiap individu.
Terbentuknya kepribadian dapat disederhanakan dengan suatu mekanisme atau hukum koneksionisme S  R. Teori ini diperkenalkan oleh Thorndike. Teori Thorndike menekankan belajar sebagai proses yang melibatkan hubungan asosiatif antara proses sensorik dan proses motorik. Individu melakukan proses trial and error dalam merespon suatu stimulus dari luar.
Teori B. F. Skinner dikenal dengan kondisioning operan. Organisme melakukan respon dengan tujuan untuk mengubahnya (sesuai dengan stimulus yang tersedia). Selama proses “operasi ini” organisme menghadapi stimulus tertentu (disebut reinforcing stimulus atau reinforcer) yang memberikan efek terhadap perilaku yang diiringi konsekuensi. Dengan demikian, terbentuklah perilaku yang baru1. Teori operan kondisioning, belajar merupakan respon yang diberikan terhadap suatu stimulus sebagai hasil dari konsekuensi positif atau negatif yang didapatkan individu saat melakukan sesuatu. Orang bertindak rajin agar “bos” senang, anak rajin belajar karena diiming-imingi ”HP facebook”. Disukai bos dan ”HP facebook”merupakan reinforcer (ganjaran). Sebaliknya, jika teman Anda ngutang tetapi tidak mau membayar, membeli coklat merek X ternyata rasanya tidak enak, ikut kuliah dosen ”anu” tetapi ”nilainya” pelit, Anda mendapat punishment (hukuman) yang membuat Anda jera dan tidak akan pernah mengulangi pengalaman Anda tersebut.
Berikutnya adalah teori kondisioning klasik dari Pavlov. Teori belajar ini didasari atas pembentukan reflek akibat pengondisian lingkungan. Stimulus yang tidak terkondisi dan respon yang tidak terkondisi (keduanya merupakan suatu hubungan reflek) diasosiasikan dengan stimulus netral yang dihadirkan bersama stimulus tidak terkondisi. Melalui serangkaian pengulangan, stimulus yang semula netral akan menghasilkan respon. Prinsip pengondisian klasikal membentuk perilaku melalui pemasangan stimulus terkondisi dan stimulus tak terkondisi dengan respon. Respon netral pada stimulus tak terkondisi pada akhirnya membentuk respon yang terkondisi pada stimulus yang semula netral. “Anjingnya Pavlov melalui mekanisme pengondisian klasik, akan mengeluarkan air liurnya bila mendengar bunyi bel – yang selalu dipasangkan dengan daging). Dengan prinsip serupa, diciptakanlah semboyan “senyum pepsodent”, Amerika demokratis – Iran teroris, lelaki sejati dengan rokok.


Tiga bentuk mekanisme belajar yang diuraikan di atas tampaknya kurang memertimbangkan faktor individu dan lebih banyak menekankan pengaruh lingkungan. Walaupun demikian, pengondisian seringkali memengaruhi perilaku individu, baik disadari maupun tidak disadari. Orang yang memiliki kekuasaan untuk mengatur perilaku orang lain (guru, orang tua, pemerintah, atasan, pacar) dapat memanfaatkan prinsip-prinsip belajar behaviorisme ini dengan efektif untuk memengaruhi dan membentuk perilaku orang lain.

December 28, 2009 - Posted by | Psikologi Kepribadian

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: