Todayon2009's Blog

Just another WordPress.com weblog

Anteseden Psikologi Belajar

Psikologi belajar merupakan salah satu pendekatan sebagai dasar dari memahami perilaku. Asumsi yang mendasari ialah: perilaku itu dipelajari, dipengaruhi lingkungan, merupakan cara adaptasi individu dengan lingkungannya.

Permasalahan dan hal-hal yang berkaitan dengan belajar telah lama dipelajari oleh bidang filsafat. Kemampuan belajar manusia menurut Plato berasal dari ide-ide yang dimiliki manusia. Pandangan ini melahirkan filsafat idealisme (yang kemudian diikuti oleh realisme dari Rene Descartes). Disisi lain Aristoteles berpandangan bahwa realita dipelajari dari lingkungan (pandangan ini sejalan dengan teori tabularasa dari John Locke).

Gagasan-gagasan filsafat menjadi dasar dari penelitian-penelitian awal psikologi terhadap “belajar sebagai pembentuk perilaku”. Terdapat dua aliran penting yang berkembang; strukturalisme di Eropa dan fungsionalisme di Amerika. Strukturalisme memelajari elemen fundamental dari aspek-aspek mental (what the mind is) seperti perilaku berpikir, kesadaran, emosi. Metode yang digunakan ialah introspeksi. Fungsionalisme lebih berkonsentrasi pada what the mind does, apa yang menjadi fungsi dari aktivitas-aktivitas mental. Pertanyaan yang ingin dijawab ialah bagaimana perilaku seseorang ditujukan untuk memuaskan kebutuhan mereka.

Perilaku belajar berawal dari proses sensasi dan berlanjut pada proses persepsi. Ide-ide atau gagasan yang terbentuk bersumber dari kesan-kesan sensoris yang saling diasosiasikan, yang diamati secara bersama-sama dan berkali-kali membentuk sejumlah kesan sensoris. Hal ini merupakan ciri dari mekanisme asosiasi.

Pandangan yang lebih jauh tidak lagi menekankan pada mekanisme sensasi, namun lebih pada fungsi atau peran belajar sebagai organisme biologis. Individu melakukan “aksi” ialah unsur pokok dalam belajar. Aksi tidak dianggap menyusul suatu gagasan atau ide yang terbentuk, tetapi sebagai ciri khas dari belajar. Dengan demikian belajar diartikan sebagai proses pembentukan tingkah laku pada organisme secara terorganisasi.

Lewat penelitian-penelitian dengan seting laboratorium lahirlah teori-teori belajar awal sebagaimana yang dikemukakan Thorndike dengan teori koneksionisme, teori kondisioning klasik dari Pavlov dan teori operan kondisioning oleh Skinner. Teori-teori di atas didasarkan atas prinsip asosiasi sebagaimana yang telah dikembangkan sejak dari filsafat melalui pengujian secara ilmiah.

Salah satu pendekatan teori yang berbeda dapat ditemukan pada teori gestalt. Gestalt tidak didasarkan atas prinsip asosiatif, tetapi oleh suatu prinsip insight. Insight merupakan pemahaman yang didapatkan sebagai reorganisasi terhadap semua kesan indrawi yang menghasilkan gagasan baru dan penyelesaian suatu masalah berdasarkan pemikiran.

Teori-teori belajar yang berkembang kemudian menunjukkan perkembangan pemahaman terhadap proses belajar. Belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi secara internal dan lebih bersifat mental.

Masing-masing teori yang telah dikembangkan telah memberikan kontribusi bagi pemahaman atas pembentukan perilaku. Aplikasi teori belajar dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan seperti dalam dunia pemasaran, organisasi dan dalam seting pendidikan dan sekolah.

Sebagai catatan, proses belajar tidaklah selalu merupakan proses kognitif. Proses mental lain seperti emosi dan insting juga memberi pengaruh dalam dalam perwujudan perilaku dikarenakan proses belajar ini.

December 28, 2009 - Posted by | Psikologi Belajar

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: